Pengalaman Ngentot Dengan Pembantu Saat Rumah Kosong

Pengalaman Ngentot Dengan Pembantu Saat Rumah Kosong

Pengalaman Ngentot Dengan Pembantu Saat Rumah Kosong – 3 bulan telah aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Pak Jasa. Aku memang bukan seorang yang makan ilmu bertumpuk, hanya sebagai lulusan SD saja di kampungku. Tapi sebab niatku untuk bekerja memang telah tidak dapat di tahan lagi, akhirnya aku pergi ke kota jakarta, dan beruntung dapat memperoleh majikan yang baik dan dapat memperhatikan kesejahteraanku.

Ibu Jasa juga pernah berkata kepadaku jika beliau menerimaku jadi pembantu rumah tangga di rumahnya lantaran usiaku yang masih relatif muda. Beliau tidak tega melihatku luntang – lantung di kota besar ini. “Jangan – jangan kamu nanti akan di jadikan sebagai wanita panggilan oleh para calo WTS yang tak bertanggung jawab.” Itulah yang di ucapkan oleh beliau kepadaku.

Usiaku memang masih 18 tahun dan terkadang aku juga sadar jika aku memang cantik, berbeda dengan gadis desa yang ada di kampungku. Pantas saja jika Ibu umar berkata seperti itu kepadaku. Tetapi akhir – akhir ini terdapat sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku, yaitu tentang perlakuan anak majikanku Mas Dika kepadaku. Mas Dika merupakan anak bungsu dari keluarga Bapak Jasa. Dia masih kuliah di semester 4, sedangkan kedua orang kakaknya sudah berkeluarga. Mas Dika baik dan sopan terhadapku, sampai aku menjadi aga segan bila berada di dekatnya. Sepertinya terdapat sesuatu yang bergetar di hatiku. Jika aku pergi ke pasar, Mas Dika tidak segan untuk mengantarkanku. Bahkan pada saat naik mobil aku tak di perbolehkan duduk di jok belakang, harus berada di sampingnya. Ahh.. Aku selalu menjadi merasa tidak Enak. Pernah suatu malam pukul 20.00, Mas anto ingin membikin mie instan di dapur, aku dengan bergegas mengambil alih dengan alasan jika yang dilakukannya pada dasarnya merupakan tugas dan kewajibanku agar dapat melayani majikanku. Tapi yang terjadi Mas Dika justru berkata kepadaku, “Tidak usah, Sarni. Biar aku saja, tidak apa-apa kok..”
“Nggak.. nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.
Tiba – tiba saja Mas Dika menyentuh pundakku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu sudah sangat capek seharian bekerja, Sinta. Tidurlah, besok kamu harus bangun kan..”

Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa – apa. Mas Dika lalu melanjutkan memasak. Tetapi aku tetap termangu di sudut dapur. Sampai kembali Mas Dika menegurku.
“Sinta, kenapa sampai dengan sekarang masih belum masuk ke dalam kamarmu. Nanti jika kamu kecapekan dan terus sakit, yang repot kita juga. Sudahlah, aku dapat masak sendiri jika hanya sekedar bikin mie seperti ini.”
Belum juga habis ingatanku saat kami berdua sedang nonton televisi di ruang tengah, sedangkan Bapak dengan Ibu Jasa sedang tak berada di rumah. Entah kenapa tiba – tiba saja Mas Dika memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku menjadi sangat salah tingkah.

“Kamu sangat cantik, Sinta.”
Aku hanya dapat tersipu dan berucap,
“Teman – teman Mas Dika di kampus kan lebih cantik-cantik, apalagi mereka kan orang-orang kaya dan pandai.”
“Tetapi kamu lain, Sarni. Pernah tak kamu membayangkan jika suatu saat ada anak majikan mencintai pembantu rumah tangganya sendiri?”
“Ah.. Mas Dika ini ada-ada saja. Mana ada cerita seperti itu”, ujarku.
“Jika kenyataannya ada, bagaimana?”
“Iya.. tidak tahu deh, Mas.”

Kata-katanya tersebut yang sampai dengan saat ini membuatku sangat gelisah. Apa benar yang dikatakan Mas Dika jika dia mencintaiku? Bukankah dia anak majikanku yang tentunya orang kaya serta terhormat, sedangkan aku hanya seorang pembantu rumah tangga? Ah, pertanyaan tersebut selalu terngiang di benakku.
Tibalah aku memasuki bulan ke 7 masa kerjaku. Sore ini cuaca memang sedang hujan meski tidak lebat. Mobil Mas Dika memasuki garasi. Kulihat pemuda tersebut berlari menuju teras rumah. Aku dengan bergegas langsung menghampirinya dengan membawa handuk agar dapat menyeka tubuhnya.

“Bapak belum pulang?” tanya dia padaku.
“Belum, Mas.”
“Ibu.. pergi..?”
“Ke rumah Bude Ayu, begitu ibu bilang.”

Mas Dika yang sedang duduk di sofa ruang tengah kulihat masih tidak berhenti menyeka kepalanya sambil membuka bajunya yang sedang basah. Aku yang sudah menyiapkan segelas kopi susu panas menghampirinya. Saat aku hampir meninggalkan ruang tengah, kudengar Mas Dika kembali memanggilku. Kembali aku menghampirinya.

“Kamu tiba-tiba membikinkan aku minuman hangat, padahal aku tak menyuruhmu kan”, kata Mas Dika sembari bangkit dari tempat duduknya.
“Sinta, aku mau bilang jika aku sangat menyukaimu.”
“Maksud Mas Apa bagaimana?”
“Apa aku perlu jelaskan?” ujar Mas Dika padaku.

Tanpa sadar aku sekarang berhadap-hadapan dengan Mas Dika dengan jarak yang dekat, bahkan dapat dikatakan terlampau sangat dekat. Mas Dika meraih kedua tanganku agar dapat di genggamnya, dengan sedikit tarikan yang dilakukannya maka tubuhku sudah dalam posisi sedikit terangkat merapat di tubuhnya. Sudah pasti dan otomatis juga aku semakin bisa menikmati wajah ganteng yang rada basah karena guyuran hujan tadi. Demikian pula Mas Dika yang semakin bisa juga menikmati wajah bulatku yang di hiasi bundarnya bola mataku dan mungilnya hidungku.
Kami berdua tidak dapat berkata – kata lagi, hanya dapat saling melempar pandang dengan dalam tanpa tahu rasa masing-masing dalam hati. Tiba-tiba entah sebab dorongan rasa yang seperti apa dan bagaimana bibir Mas Dika menciumi ku.

Aku sudah mencoba agar memerangi gejolak yang meletup bak gunung yang akan memuntahkan isi kawahnya. Tetapi suara hujan yang semakin menderas, dan juga situasi rumah yang hanya tinggal kami berdua, dan juga bisik goda yang aku tidak tahu darimana datangnya, kesemua itu membuat kami berdua semakin larut dalam permainan cinta ini. Ruang tengah tersebut menjadi begitu berantakan terlebih sofa tempat kami bermain cinta dengan penuh gejolak.

Pada saat senja mulai datang, selesailah pertempuran nafsuku dengan nafsu Mas Dika. Kami duduk di sofa, tempat kami tadi melakukan sebuah permainan cinta, dengan rasa sesal yang masing-masing berkecamuk dalam hati. “Aku tak akan mempermainkan kamu, Sinta. Aku lakukan ini sebab aku mencintai kamu. Aku sungguh-sungguh, Sinta. Kamu mau mencintaiku kan..?” Aku terdiam tidak dapat menjawab sepatah kata pun.

Mas Dika kemudian menyeka butiran air bening di sudut mataku, kemudian mencium pipiku. Seolah dia mengatakan jika hasrat hatinya padaku merupakan kejujuran cintanya, dan akan dapat membuatku yakin akan ketulusannya. Meski aku tetap bertanya dalam sesalku, “Mungkinkah Mas Dika akan sanggup menikahiku yang hanya seorang pembantu rumah tangga?”
Pada pukul 19.30 malam, barulah rumah ini tidak berbeda dengan waktu-waktu kemarin. Bapak dan Ibu Jasa seperti biasanya tengah menikmati tayangan acara televisi, dan Mas Dika mendekam di kamarnya. Yah, seolah tidak terdapat peristiwa apa-apa yang pernah terjadi di ruang tengah tersebut.

Sejak permainan cinta yang penuh nafsu tersebut kulakukan dengan Mas Dika, waktu yang berjalanpun tidak terasa sudah memaksa kami untuk terus dapat mengulangi lagi nikmat dan indahnya permainan cinta itu. Dan yang pasti aku menjadi seorang yang harus dapat menuruti kemauan nafsu yang ada dalam diri. Tidak peduli lagi siang atau malam, di sofa ataupun di dapur, asalkan keadaan rumah sedang sepi, kami selalu tenggelam hanyut dalam permainan cinta dengan gejolak nafsu birahi. Selalu saja setiap kali aku membayangkan sebuah gaya dalam permainan cinta, tiba – tiba nafsuku bergejolak ingin segera saja rasanya melakukan gaya yang sedang melintas dalam benakku itu. Kadang aku juga melakukannya sendiri di kamar dengan membayangkan wajah Mas Dika. Bahkan pada saat di rumah sedang ada Ibu Jasa tetapi tiba-tiba nafsuku bergejolak, aku masuk kedalam kamar mandi dan memberi isyarat pada Mas Dika agar menyusulnya. Untung kamar mandi untuk pembantu di keluarga ini letaknya di belakang jauh dari jangkauan tuan rumah. Aku melakukannya di sana dengan penuh gejolak di bawah guyuran air mandi, dengan lumuran busa sabun di sana-sini yang rasanya membuatku semakin saja dapat menikmati sebuah rasa tanpa batas tentang kenikmatan.

Meskipun setiap kali setelah melakukan hal itu dengan Mas Dika, aku selalu di hantui dengan sebuah pertanyaan yang itu lagi dan dengan mudah mengusik benakku: “Bagaimana jika aku hamil nanti? Bagaimana jika Mas Dika malu untuk mengakuinya, apakah keluarga Bapak Jasa akan merestui kami berdua agar dapat menikah sekaligus sudi menerimaku sebagai menantu? Ataukah aku akan di usir dari rumah ini? Atau juga pasti aku di suruh agar menggugurkan kandungan ini?” Ah.. pertanyaan ini benar-benar membuatku seolah gila dan mau menjerit sekeras mungkin. Apalagi Mas Dika selama ini hanya berucap: “Aku mencintaimu, Sinta.” Seribu juta kalipun kata tersebut terlontar dari mulut Mas Dika, tak akan berarti apa-apa jika Mas Dika tetap diam tidak berterus terang dengan keluarganya atas apa yang sudah terjadi dengan kami berdua.
Akhirnya terjadilah apa yang selama ini kutakutkan, jika aku mulai sering mual dan muntah, yah.. aku hamil! Mas Dika sudah mulai gugup dan panik atas kejadian tersebut.

“Kenapa kamu bisa hamil?” Aku hanya diam tidak dapat menjawab.
“Bukankah aku telah memberimu pil agar kamu tidak dapat hamil. Jika begini kita yang repot juga..”
“Kenapa mesti repot Mas? Bukankah Mas Dika telah berjanji akan menikahi Sarni?”
“Iya.. iya.. tetapi tak secepat ini Sinta. Aku masih mencintaimu, dan aku pasti akan menikahimu, dan aku akan menikahimu. Tapi tidak sekarang. Aku butuh waktu yang tepat agar dapat bicara dengan Bapak dan Ibu jika aku mencintaimu..”

Yah.. setiap kali aku mengeluh tentang perutku yang semakin bertambah usianya dari hari ke hari dan berganti dengan minggu, Mas Dika selalu kebingungan sendiri dan ttidak pernah mendapatkan jalan keluar. Aku menjadi semakin terpojok oleh kondisi dalam rahim yang tentunya semakin membesar.
Genap pada usia 3 bulan kehamilanku, keteguhkan hatiku agar dapat melangkahkan kaki pergi dari rumah keluarga Bapak Jasa. Kutinggalkan seluruh kenangan duka atau pun suka yang selama ini kuperoleh di rumah ini. Aku tak akan menyalahkan Mas Dika. Ini semua salahku yang tak dapat menjaga kekuatan dinding imanku. Subuh pagi ini aku meninggalkan rumah ini tanpa pamit, sesudah kusiapkan sarapan dengan sepucuk surat di meja makan yang isinya jika aku pergi sebab merasa bersalah dengan keluarga Bapak Jasa.

Hampir setahun sesudah kepergianku dari keluarga Bapak Jasa. Aku sekarang telah menikmati kehidupanku sendiri yang tidak selayaknya aku jalani, tetapi aku bahagia. Sampai dengan suatu pagi aku membaca surat pembaca di tabloid terkenal. Surat tersebut isinya jika seorang pemuda Dika yang sedang mencari dan mengharapkan isterinya yang bernama Sinta agar segera pulang. Pemuda tersebut tampak sekali berharap dapat bertemu lagi dengan si calon isterinya sebab dia sangat mencintainya.

Aku tahu dan mengerti benar siapa calon isterinya. Tetapi aku telah tak mau lagi dan pula aku tak pantas untuk berada di rumah tersebut lagi, rumah tempat tinggal pemuda bernama Dika tersebut. Aku telah tenggelam dalam kubangan ini. Andai saja Mas Dika suka pergi ke lokalisasi, tentu dia tak perlu harus menulis surat pembaca tersebut. Mas Dika pasti akan menemukan calon istrinya yang sangat di cintainya. Supaya Mas Dika juga mengerti jika sampai dengan sekarang aku masih sangat merindukan kehangatan cintanya. Cinta yang pertama dan terakhir bagiku.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*